Selasa, 22 September 2020

Profil Syech Hasan Abati Lamno ('Alim Tuhfah Qadhi Calang)

@mahasantri

                          SYECH HASAN ABATI LAMNO
                   (Ulama Alim Tuhfah dan Qadhi Calang)
    Beliau adalah seorang ulama Lamno yang alim dalam fikih sehingga pernah menjadi Qadhi Calang setelah wafatnya Abu Aidarus Pendiri Dayah Aidarusiah lamno. Teungku Hasan Ibrahim yang kemudian lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan panggilan Abati, yang merupakan sebuah penghormatan dari masyarakatnya yang bermakna ayah atau orang yang dituakan. Syech Hasan Abati Lamno lahir di tahun 1920, dan mengawali masa belajar langsung ilmu-ilmu dasar dari orang tuanya, kemudian beliau melanjutkan kajian keilmuan kepada salah seorang ulama besar Lamno yang dikenal dengan Abu Mesjid Sabang Lamno yang mendirikan Dayah Aidarusiah. Abu Sabang lamno merupakan murid dari Teungku Haji Muhammad Arif dan Teungku Chik Ahmad Bungcala karib dari Teungku Chik Di Tiro Pahlawan Nasional. Abu Sabang lamno kemudian pernah pula belajar di Mekkah dalam usia mudanya. Disebutkan bahwa Teungku Hasan Abati belajar di Dayah Aidarusiah pimpinan Abu Sabang Lamno selama enam tahun. Dayah ini lebih dikenal dengan kajian keilmuan nahwu, fikih dan tasauf.
    Selesai menimba ilmu di Dayah Aidarusiah, Teungku Hasan Abati kemudian belajar kepada ulama besar Aceh lainya yaitu Abu Hasan Kruengkale, pimpinan Dayah Siem Krueng Kalee Aceh Besar. Di Dayah Kruengkale, beliau lebih memperdalam ilmu fikih, dimana Abu Kruengkalee disebutkan oleh anaknya Teungku Syech Marhaban telah mengkhatamkan puluhan kali Kitab I’anatuththalibin dan Mahalli selama proses belajar dan mengajar. Selain ahli dalam dua kitab besar tersebut, Abu Kruengkalee juga menguasai Kitab Tuhfah karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Bahkan bacaan beliau disebut cepat karena saking mendalam penguasaannya. Di Dayah Kruengkalee Teungku Hasan Abati Lamno mendalami kitab-kitab fikih tersebut terutama kitab besar Tuhfatul Muhtaj atau Tuhfah karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
    Sekitar empat tahun beliau belajar di Dayah Abu Kruengkalee telah mengantarkan Teungku Hasan Abati menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya.
Merasa ilmunya masih dangkal dan minim, Abu Hasan Abati kemudian mengembara ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan yang dipimpin oleh Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy. Di Dayah Darussalam, beliau seangkatan dengan Abu Abdullah Tanoh Mirah dan Abu Abdul Aziz Samalanga atau Abon Samalanga. Beliau juga sempat mengenyam kelas khusus Bustanul Muhaqqiqin, sebuah kelas yang langsung diajarkan oleh Abuya Haji Muda Waly.
    Umumnya santri kelas Bustanul Muhaqqiqin menjadi para ulama dan ilmuan yang diperhitungkan. Sebut saja beberapa di antara mereka adalah: Abu Yusuf Alami, Abu Marhaban Bakongan, Abu Jailani Kota Fajar, Abu Aidarus Batu Basurek Bangkinan, Abu Marhaban Kruengkalee, Abu Imam Syamsuddin Sangkalan, Abu Baharuddin Laut Tawar, Abu Keumala Pidie, Abu Basyah Lhong, Abu Abdullah Tanoh Mirah, Abon Aziz Samalanga, Abuya Muhibbudin Waly dan para ulama lainnya. Selama di Darussalam beliau mendalami Kitab Tuhfah sehingga karena penguasaan kitab tersebut beliau dikenal dengan ulama alim Tuhfah. Selain mendalami fikih, Abu Hasan Abati Lamno juga mendalami Tasawuf terutama Tarekat Naqsyabandiyah dari Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy yang merupakan Mursyid Kamil Mukammil untuk tarekat Naqsyabandiyah yang beliau ambil ijazah dari Syekh Abdul Ghani Kampari ayahnya Abuya Aidarus Kampari yang juga murid dari Abuya Muda Waly sendiri.
    Sekitar tiga tahun lebih Syech Hasan Abati Lamno berada di Darussalam Labuhan Haji dan tentunya beliau telah menjadi seorang ulama yang sangat mendalam ilmunya. Sehingga tidak mengherankan ketika tiba kembali di kampung halamannya, beliau langsung diangkat sebagai Qadhi di wilayah Calang, menggantikan posisi Abu Haji Aidarus yang telah wafat. Karena kesibukan beliau dalam dunia birokrasi maka Abu Hasan Abati tidak membangun dayah seperti teman-temannya Abu Tanoh Mirah dan Abon Samalanga. Namun demikian beliau memiliki sepuluh orang anak yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan salah satu anaknya menikah dengan seorang ulama Kharismatik Aceh yaitu Abuya Teungku Jamaluddin Waly al-Khalidy, seorang Mursyid dan Pimpinan Pesantren Labuhan Haji, anak dari Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy. Setelah kiprah yang panjang untuk agama, maka wafatlah ulama yang alim tersebut di tahun 1984 dalam usia 64 tahun.

 

Rahimahullah Rahmatan Wasia’atan.

 Sumber : Qurratun Aini Sy Al-abaty (cucu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar